30 October 2009

Kisah Dam Bagong Trenggalek


“ASAL MULA DAM BAGONG”
Pada zaman dahulu Trenggalek terkenal daerah yang tandus dan kering, sehingga banyak orang makan nasi tiwul / gaplek. Hal itu menjadikan rasa keprihatinan bagi punggawa pemerintahan Kadipaten Trenggalek khususnya Adipati Minak Sopal. Karena rasa tanggung jawabnya terhadap rakyatnya, maka Adipati Minak Sopal punya gagasan untuk membangun Dam agar airnya bias mengaliri sawah-sawah yang ada di wilayah Trenggalek yang dulu terkenal sawah tadah hujan. Dalam mewujudkan gagasan itu Adipati Minak Sopal membangun Dam di daerah Bagong.
Untuk membangun Dam Bagong tidak mudah karena arus air dari kawasan utara sangat besar sehingga Dam itu jebol dan rusak. Jebol dan rusaknya Dam itu ternyata karena ulah dari Penguasa Kawasan Gunung Wilis yang terkenal sakti bernama Raja Bedander. Konon Raja Bedander bermusuhan dengan Adipati Minak Sopal karena perebutan wilayah. Untuk itu Raja Bedander mengancam Trenggalek akan dimusnahkan dengan cara mendatangkan air yang besar dar4i sungai sebelah utara Trenggalek. Karena ada ancaman dari Raja Bedander maka Adipati Minakm Sopal berupaya menanggulangi dengan cara membuat Dam Bagong.
Namun sebelum mengulas tentang Dam Bagong perlu kita menyimak peristiwa permusuhan Raja Bedander dengan Adipati Minak Sopal. Dulu Raja Bedander mempunyai wilayah di kawasan lereng Gunung Wilis. Karena ambisinya dia ingin mengembangkan wilayah ke selatan.
Wilayah selatan adalah wilayah kawasan Adipati Minak Sopal sehingga terjadi perebutan wilayah. Agar tidak mengorbankan rakyatnya maka Adipati Minak Sopal mengajak bertanding Raja Bedander adu kesaktian. Karena tantangan dari Adipati Minak Sopal maka Raja Bedander beserta prajuritnya berangkat bersama-sama menuju Trenggalek, Karena perjalanannya dari lereng Gunung Wilis sangat jauh, maka rombongan Raja Bedander beristirahat di daerah Srabah dengan menancapkan payungnya di tanah yang akhirnya sampai sekarang bekas istirahatnya Raja Bedander di Srabah dinamai Watu Payung karena ada batu yang menyerupai payung.
Usai istirahat di Srabah berangkat ke selatan. Di selatan desa Srabah rombongan Raja Bedander istirahat lagi sambil menghibur diri dengan diiringi gamelan. Rasa capeknya sudah hilang rombongan berangkat lagi ke selatan.
Namun sebelum berangkat gamelan pengiring tadi Ia sabda jadi batu yang sekarang dinamai “Batu Gong” atau batu gamelan, karena ada batu-batu yang menyerupai alat gamelan.
Di sekitar Ngares tepatnya di tengah hutan Raja Bedander bertemu dengan Adipati Minak Sopal. Mereka berkelahi adu kesaktian sampai berhari-hari. Karena kelelahan mereka istirahat, usai istirahat mereka berdua mengajak bertanding lagi dengan cara adu ayam. Ayam mereka berdua juga sangat sakti, karena setiap adu cakar terjadi percikan api. Namun pada suatu saat ayam Adipati Minak Sopal menghantam dan mencakar ayam Raja Bedander dengan kerasnya sehingga ayam itu jatuh terduduk. Setelah jatuh terduduk ada kejadian aneh bahwa ayam Raja Bedander menjadi batu dan ayam Adipati Minak Sopal menjadi bongkahan besi baja.
Ternyata karena kesaktian dari masing-masing penguasa itu, Raja Bedander menciptakan ayam jago dari batu dan Adipati Minak Sopal menciptakan ayam jago dari besi baja. Untuk itu sampai sekarang bekas tempat adu jago itu dinamai “Watu Jago”, karena di situ ada batu menyerupai ayam jago.
Nah karena merasa belum kalah Raja Bedander mengajak lagi bertanding adu kesaktian. Namun pada perkelahian kali ini Raja Bedander kena sabetan keris Adipati Minak Sopal tepatnya mengenai kemaluannya sehingga putus. Akhirnya Raja Bedander lari sambil memegangi kemaluannya dan darahnya tercecer di jalan. Dia istirahat darah tetap mengalir sehingga tanah itu diberi nama “Lemah Bang” yang artinya tanah merah. Raja Bedander walaupun sudah kalah tetap belum menerima kekalahannya bahkanb akan mendatangkan banjir banding dari lereng Gunung Wilis. Untuk menjaga ancaman dari Raja Bedander maka ada syarat yaitu harus membuat bendungan air. Tempat yang cocok adalah di daerah Bagong, namun memerlukan tumbal.
Hal ini diperoleh wisik (bisikan) dari orang tua Adipati Minak Sopal yang ayahnya siluman Raja Buaya dan ibunya bernama Roro Amis. Dari saran orang tuanya itu bahwa Dam (bendungan) tidak akan jebol apabila diberi tumbal gajah putih. Padahal gajah putih yang punya hanya Mbok Roro Krandon dari Ponorogo, maka suatu hari berangkatlah Adipati Minak Sopal ke Ponorogo mau pinjam gajah putih. Karena mau dipinjam maka gajah putih diberikan pada Adipati Minak Sopal. Gajah Putih sebelum dijadikan tumbal dikandangkan di daerah Gempleng yang sampai sekarang peninggalannya diberi nama “Watu Kandang”.
Pada suatu hari Gajah Putih dibawa ke Dam Bagong untuk disembelih dan dibuang dalam Dam (bendungan) itu. Wal hasil memang bendungan itu kuat dan tidak jebol. Namun bagi Mbok Roro Krandon menjadi cemas karena gajah putih miliknya belum juga dikembalikan sehingga mereka tunggu di Gunung perbatasan Ponorogo, Trenggalek. Bahkan karena terlalu lama menunggu tongkat Mbok Roro Krandon dimakan ngengat 9rayap), sehingga menjadi lapuk (bubuken). Wal hasil tidak kunjung dating sehingga bekas tempat menunggu Mbok Roro Krandon itu dinamakan “Gunung Sebubuk”.
Mendengar Gajah Putih miliknya disembeleih untuk tumbal bendungan atau Dam Bagong maka mereka iklas demi keamanan dan kesejahteraan rakyat Trenggalek. Untuk itu sampai sekarang adat menyembelih gajah, setiap tahunnya diganti dengan kerbau. Dimana prose situ berlangsung sacral dan meriah. Pada hari itu di lokasi Dam Bagong diadakan sembelih kerbau, kepala dan kaki dibuang ke bendungan Dam Bagong untuk diperebutkan oleh orang-orang. Sedangkan dagingnya dimasak untuk menjamu para undangan.
Di malam hari diadakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk hingga pagi harinya dilaksanakan prosesi ruwatan dengan tujuan agar seluruh masyarakat Trenggalek terhindar dari bencana dan ditingkatkan kesejahteraannya.
Demikian cerita tentang asal mula Dam Bagong yang berada di Kelurahan Ngantru Kecamatan / Kabupaten Trenggalek.
v Nilai-nilai / Hikmah yang bias diambil dari cerita tersebut adalah :
Dengan adanya Dam Bagong sawah-sawah yang ada di daerah Trenggalek bagian dataran yang semula sebagai sawah tadah hujan dan mengalami kekeringan di musim kemarau, namun dengan adanya Dam Bagong maka sawah itu berubah statusnya menjadi sawah irigasi, sehingga pada musim kemaraupun dapat diolah sekaligus sebagai penahan banjir di musim penghujan.

Sumber : Sesepuh Keraton Trenggalek

9 comments:

  1. mbak saya anak trenggalek yang sedang kuliah di UM jurusan sejarah. saya tertarik dengan artikel anda yang membahas tentang dam bagong.kalo boleh tau sumbernya dari buku apa?dan dapatnya dari mana?kalo boleh minta no hp mbak,biar gampang bertanya.tolong balasnya ke email saja : rizkyhanggarafery@gmail.com

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. dapat menambah wawasan sejarah..generasi muda trenggalek

      Delete
    2. Amin ... terimakasih sobat udah mampir ke blog ini ya

      Delete
  3. wah saya sangat tertarik dengan cerita/sejarah di trenggalek krn saya juga asli orang trenggalek. smg bermanfaat

    ReplyDelete
  4. banyak versi cerita kotaku ini, saya jadi penasaran!!
    masih aktif gak blog ini?

    ReplyDelete
  5. banyak versi mengenai kotaku ini, jadi tambah penasaran kebenarannya!!
    masih aktif gak blog ini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf agak lama replaynya ......
      Iya nih ada beberapa macam cerita bikin penasaran

      Delete